Wednesday, January 4, 2012

cukup?

well, anak ini sebenarnya adalah orang yang beruntung karena memiliki keluarga yang ramai. hmm RAMAI? tidak seperti kedengarannya. Sejak kecil, ia selalu ditinggal kedua orang tuanya untuk bekerja, sehingga ia dititipkan oleh seorang pengasuh yang sangat sayang padanya.

Ia dididik dalam lingkungan keluarga yang keras dan cukup militan, serba berkecukupan, tetapi ia tidak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan. Pada suatu hari, ia sedang bermain bersama kakak dan teman sebaya nya. Tiba-tiba ia melihat seorang pedangang makanan yang sangat menggiurkan, ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah bersama kakaknya dan dengan tujuan untuk meminta uang jajan. Pada saat itu, ia melihat ayahnya yang sedang duduk di teras rumah, mereka berdua pun membujuk ayahnya untuk membelikannya makanan itu. Dengan marah, ayahnya memberikan uang 10 ribu rupiah (padahal harga makanan itu hanya 500 rupiah), ayahnya ,melempar uang itu sambil berkata "beli sana sama abang-abangnya!" sungguh hal yang sangat mengiris hati.

Waktu pun terus berlalu, anak itu pun mulai beranjak dewasa. Namun, hal itu tidak berbanding lurus dengan kehidupannya. Setiap hari, ia selalu saja dimarahi kedua orang tua nya, bahkan ia dan kakaknya pernah disiram di kamar mandi. Sampai-sampai ia pernah berniat untuk pergi dari rumah.

Suatu hari, ibunya begitu marah padanya. Karena merasa tidak tahan lagi dengan keadaan yang ia hadapi, ia pun memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia mengumpat di balik rumah tetangga nya. Ibunya pun panik mencarinya, karena anak itu tidak pernah melakukan hal yang "aneh". Akhirnya, ketika waktu menjelang maghrib, ibunya sedang berada di dapur, dan anggota keluarga lainnya sedang keluar rumah, anak itu pun memutuskan untuk mengendap-ngendap untuk masuk ke dalam kamarnya, dan ia berlindung di bawah perlak (sejenis tilam tempat tidur). Ketika itu orang rumah nya sibuk mencarinya, kakaknya pun sempat mencari ke kamarnya, tetapi karena ia mengumpat, maka kakaknya tidak dapat melihatnya. Karena tidak mau melihat keluarganya khawatir akan dirinya, maka anak itu pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya.

Penderitaannya tidak berakhir sampai disitu. Waktu terus berlalu, selama itu pula ia menahan perih di dalam hatinya. Pernah ia mengutarakan keluhannya akan hal ini, ketika ia merasa sangat dibedakan dari kedua saudaranya. Hal itu pun hanya berlaku untuk sementara, kedua orang tua nya meminta maaf atas kesalahan mereka yang menurut mereka sama sekali tidak bermaksud untuk membedakan.

Setelah kejadian itu, ia masih mendapat tekanan dari kedua orang tuanya yang sering kali berselisih paham. Hal ini berlangsung cukup lama, bertahun-tahun, bahkan hampir setiap tahun pertengkaran itu terjadi. Sampai pada puncaknya ketika kata perceraian mulai keluar dari mulut ibunya. Setiap hari, ia hanya bisa termenung, mencari kesibukan lain, bahkan berusaha agar ia tidak berada di rumah.

Mulai dari itulah, anak itu berkenalan dengan dunia organisasi. Senin-Minggu selalu disibuki dengan kegiatan organisasi. Pernah salah seorang guru yang dekat dengannya menegurnya, mengapa ia sering sekali terlihat di sekolah, dan anak itu pun mengaku bahwa ia merasa bosan karena tidak ada orang di rumah yang menemani. Setiap hari ayah dan ibunya berangkat pagi-pagi buta dan baru akan pulang pada sore harinya, bahkan sering kali kedua orang tuanya tidak pulang kerumah.

Kini anak itu mulai beranjak dewasa. Pemikirannya pun mulai berubah. Ia selalu berusaha untuk menampilkan yang terbaik di depan orang tuanya. Berbagai penghargaan dan pencapaian yang telah ia dapatkan cukup membanggakan kedua orang tuanya. Tetapi,, apa lagi balasan yang ia dapatkan? Tidak ada satu pun hadiah, bahkan kecupan yang diberikan. Segala yang diperbuat selalu salah di mata orang tuanya. Ia telah berusaha untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya, tetapi selalu ada cacat di mata kedua orang tuanya. Ketika liburan tiba, apa yang dilakukan teman-teman sebayanya? liburan, bermain, dsb. tetapi apa yang ia lakukan? Setiap hari ia harus membantu pekerjaan rumah. Walaupun ia sudah melakukan yang terbaik demi menyenangkan hati kedua orang tuanya, tetapi hasilnya NIHIL di mata mereka. Tetap saja kecacatan itu muncul ke permukaan.

Suatu hari, ia dapat mengabulkan impiannya, suatu pencapaian yang sangat luar biasa menurutnya. Tetapi lagi dan lagi hanya kata "selamat" dengan sedikit pelukan yang diberikan. Cuma itu, ya cuma itu yang ia dapatkan. Bukan ia ingin diberi penghargaan atas pencapaian nya itu, tetapi ia hanyalah seorang anak-anak yang sama seperti anak-anak lainnya, ingin mendapatkan sesuatu yang ia harapkan. Dengan pencapaian nya yang sekarang, justru menjadi bahan untuk "mengejek" anaknya. Hal itu dijadikan alasan apabila sang anak melakukan hal yang "dianggap salah" oleh orang tuanya, dengan label "pintar", sepertinya tidak ada hal yang membanggakan untuk kedua orang tuanya itu. Dengan pemikiran yang mulai dewasa, anak itu masih dapat menerima apa yang dilakukan kedua orang tua nya terhadap ia. Tetapi ada suatu hal yang sangat miris sekali, ketika anak itu membicarakan keinginannya (padahal sesuatu itu hanya terucap belaka dan sungguh tidak serius), selalu saja ia dibilang menuntut. Padahal menurutnya hal itu hanyalah pembicaraan yang sangat sepele dan tidak perlu dibesar - besarkan. Tetapi orang tuanya menangkap hal yang berbeda, ia selalu saja dikatakan MENUNTUT orang tuanya, padahal seingat nya dia tidak pernah menuntut apa pun. Ia hanya mengutarakan keinginannya, sekali lagi ia hanya SEORANG ANAK BIASA, SAMA SEPERTI TEMAN NYA YANG LAIN, apakah ia menuntut? saya kira tidak. Mungkin orang tua nya yang merasa tertuntut. Sungguh sangat mengiris hati, sebuah keluarga yang berkecukupan, namun tidak cukup merasakan KEBAHAGIAAN.

Sebuah cerita yang berasal dari hati seorang anak yang selalu disalahkan, selalu penuh kecacatan, selalu berjuang demi sesuatu yang ingin dicapainya. Sungguh sangat menampar hati ...